Kamis, 27 Januari 2011
Selasa, 28 Desember 2010
my profile
Sabtu, 18 Desember 2010
Metode Sorogan
Kaligrafi sebagai manifestasi seni Islam
Kaligrafi[1] adalah seni menulis atau bisa dikatakan kepandaian menulis indah. Ia merupakan wujud keindahan dengan nilai-nilai spiritual yang memberi efek kesenangan dan hiasan. Sedangkan keindahan sendiri menghadirkan kehalusan budi dan karya manusia. Kaligrafi yang dalam bahasa Arab disebut dengan al khath juga merupakan identitas, sarana ibadah dan bahan renungan pesan-pesan Ilahi.
Kaligrafi sebagai identitas karena dewasa ini kaligrafi identik dengan hasil kesenian (grafis) yang bernilai islami (art of Islamic art), karena materi utama dari karya grafis ini adalah ayat-ayat qauliyyah Ilahiyyah dan ahadits nabawiyyah disamping juga untaian hikmah berbahasa Arab. Sementara kaligrafi sebagai sarana ibadah adalah adanya motifasi tersembunyi dari kaligrafi itu sendiri yang mendorong kaligrafer ataupun para penikmatnya untuk lebih “membaca” pesan-pesan Ilahi yang termaktub dalam tulisan tersebut.
Didin Sirojuddin, seorang kaligrafer kawakan Indonesia mengungkapkan bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW yang sangat revolusioner itu mempunyai peran yang besar dalam perkembangan kaligrafi[2]. Ayat-ayat Iqra’[3] itulah yang menjadi “ruh” kebangkitan aksara Arab sehingga turut menghiasi masa kejayaan Islam masa lampau sampai saat ini. Dengan adanya ruh tersebut, kaligrafi Islam tidak hanya bernilai artistik, tapi juga transendental secara makna. Keindahannya berbaur dengan nilai-nilai spiritual.
Sebagai art of Islamic art, kaligrafi merupakan satu-satunya hasil kesenian yang terus tumbuh sehingga mencapai puncak perwujudannya melebihi berbagai seni Islam lainnya. Bahkan, jika dibandingkan dengan jenis-jenis tulisan seni lainnya, kaligrafi Arab tetap menduduki level tertinggi yang tidak pernah digapai oleh seni tulis mana pun di dunia ini.
Dalam dunia peradaban Islam, kaligrafi (pernah) memiliki ketergantungan timbal balik (simbiosis mutualisme) yang erat dan tak mungkin terpisahkan. Setidaknya Ibnu Khaldun pernah mencatat dalam Muqaddimahnya bahwa kaligrafi juga bergantung kepada eksistensi peradaban yang menaunginya. Sebagai bukti, ketika kerajaan Islam mulai lemah dan mundur, maka kemahiran menulis kaligrafi juga mulai surut[4].
Pada masa selanjutnya (sampai saat ini), kaligrafi terus mengalami perkembangan yang pesat baik dari corak ragamnya, tekhnik penulisannya, sampai pada inovasi gaya dan visualisasinya mulai dari gaya klasik sampai kontemporer yang dipengaruhi oleh bentuk seni lain. Realitas ini membuat kaligrafi Arab memilik pesona tersendiri sehingga menarik perhatian khayalak luas untuk menggali dan mengkajinya baik itu oleh praktisi kaligrafi itu sendiri maupun mereka yang berada out side dari kaligrafi itu.
Namun, mayoritas para pengkaji kaligrafi tersebut lebih berkonsentrasi pada kaligrafi sebagai ekspresi kesenian tulis-menulis secara praktis sebagai sebuah ketrampilan. Yang menjadi sasaran adalah memperkenalkan kaedah-kaedah penulisan (qawa’id al kitabah) dan teori pelatihannya. Sebagian besar dari buku-buku kajian tersebut mengambil refensi utama dari kitab-kitab utama yang memuat kaidah-kaidah tulisan Arab semisal karya Hasyim Muhammad al Khaththath, Qawa’id al Khath al ‘Araby (Baghdad, 1961).[5] Ataupun kalau tidak, mereka banyak menulis kaligrafi dari aspek historis dengan menampilkan para tokoh-tokoh yang berpengaruh pada zamannya[6]. Dan sangat jarang (terutama di Indonesia) hasil kajian yang membahas kaligrafi dari aspek filosofis dan wacana kebudayaan Islam yang aktual dan empiris.
Berangkat dari deskripsi di atas, penulis berusaha memfokuskan paper ini pada kajian kaligrafi sebagai manifestasi[7] seni Islam dengan menelusuri peran kaligrafi dalam sejarah peradaban Islam. Dalam penulisan paper ini, untuk efisiensi pembahasan, sengaja penulis tidak akan banyak menyinggung kaligrafi dari aspek historis kemunculannya (asal muasalnya) ataupun aspek skill praktis dan perkembangan perubahan gaya, corak serta jenisnya, tapi lebih pada motivasi perkembangan kaligrafi dalam peradaban Islam terutama pascapewahyuan (diturunkannya al Qur’an).
Selasa, 14 Desember 2010
KETIKA RINDU SAHABAT MENERPA
| DRAGONERS-695 'C 1995 |
Untuk: Sitah Akhmad Zaenuri
Prestasi pesantren yang sampai saat ini belum terkalahkan adalah juara keikhlasan. Namanya juga keikhlasan, saya tidak bisa menceritakannya secara detil untuk Anda. Menjadi klise dan susah dipercaya kalau keikhlasan itu hanya saya gambarkan dengan gaji gurunya yang hanya lima puluh ribu tapi beretos kerja seperti menerima lima puluh juta. Menjadi hambar pula kalau saya tuturkan bahwa keikhlasan hanya dilihat dari jam kerja mereka yang dua puluh empat jam, bahkan dua puluh empat jam itu masih dirasa kurang untuk menuntaskan detil perjuangan. Menjadi absurd kalau saya gambarkan wajah keikhlasan pesantren sebagai wajah yang hanya menengadah kepada Tuhan dan mengesampingkan motif-motif materi. Benar-benar kabur nilai keikhlasan itu kalau saya narasikan karena hanya Tuhan yang mendeteksi keikhlasan sesungguhnya. Setiap kata dari manusia tidak sahih dan absah untuk mendeskripsikan keikhlasan pesantren. Anda sendiri yang harus datang ke sana dan mencicipi nafas kehidupannya: mereka menghirup udara keikhlasan dan dikeluarkan dalam bentuk keikhlasan pula.
Melihat gelagat kapitalisme dan kecenderungan materialisme sekarang ini, nampaknya prestasi itu akan menjadi rekor permanen yang dikukuhkan untuk pesantren. Hari ini dan seterusnya akan dipenuhi kompetisi untuk menghapus Tuhan dari setiap pertimbangan pengambilan keputusan. Bila ini benar terjadi, maka keikhlasan akan dimonopoli pesantren karena hanya di pesantren Tuhan masih dipertimbangkan. Rekor keikhlasan pesantren itu juga berpotensi menurunkan rekor baru: juara menanamkan keikhlasan pada darah setiap santrinya, bahkan ke dalam darah orang tua santri, para tamu dan simpatisan. Apalagi rakyat jelata, para pesohor negeri yang bersilaturahmi, hanya mampu menyumbangkan ratusan juta kebaikan kepada pesantren tanpa sedikit pun bisa mempengaruhinya untuk menjadi merah, hijau, kuning atau biru. Siapapun tak akan berdaya menerbitkan kepentingan selain lillah di dalam pesantren. Pengalaman puluhan tahun menegaskan: siapapun yang bermain-main dengan keikhlasan pesantren akan terpental. Keikhlasan itu telah mengkristal menjadi sistem persis samudra: semua kotoran akan terpinggirkan tercampak di bibir pantai.
Pesantren bergerak cepat dan dinamikanya menjadi pusaran keikhlasan yang dasyat. Siapa pun yang berkunjung akan masuk tersedot ke dalam pusaran itu. Besar kecil keikhlasan yang mampu diterima tergantung besar kecilnya seseorang menghirup oksigen keikhlasan dari sana. Ribuan jilid buku tidak akan cukup menuturkan kisah-kisah keikhlasan dari rahim pesantren. Di antara yang banyak itu, saya ingin menyampaikan salah satunya untuk Anda.
Namanya Sitah Ahmad Zaenuri. Asli magelang, berkulit putih, berwajah bulat, bertinggi sedang, berambut lurus, gigih, berkemauan keras, terampil, kreatif dan menghirup keikhlasan dalam porsi luar biasa dari pesantren. Tiga ciri terakhir akan saya garisbawahi karena untuk ketiganya saya menjadi saksi kunci. Sitah, begitu saya memanggilnya, lahir tidak dengan bakat keterampilan yang memadai, melainkan biasa saja seperti bayi lainnya. Tetapi kreatifitas yang dititipkan Tuhan dalam dirinya melebihi ambang batas rata-rata. Cadangan kreatifitas yang berlebihan itulah yang mengantarkan Sitah menjadi pengurus Bagian Keterampilan (Baketram) OPPM. Menjadi anggota Baketram saja sudah prestisius, apalagi berperan pengurus, tentu Sitah telah menjadi simbol santri terampil di pesantren kami. Sitah kreatif memanfaatkan setiap peluang untuk meningkatkan keterampilan. Sitah selalu membawa gunting, cutter, pena khat dan kuas. Setiap jam kosong adalah peluang menggambar, melukis kaligrafi, melipat kertas, menggunting pita. Guru yang tidak menarik dan sesi pelajaran yang telah dikuasai adalah kesempatan untuk menghias meja. Apalagi Sitah adalah sosok santri cerdas yang cepat menguasai pelajaran. Sebentar mendengarkan, langsung paham sehingga lebih banyak kesempatan menghias meja. Meja yang pernah di pakai Sitah adalah meja yang penuh ukiran, lukisan kaligrafi, hingga puisi. Suatu hari Bagian Keamanan melihat meja dengan ciri itu di aula. Serta merta sang keamanan memerintahkan penangkapan atas Sitah tanpa investigasi, semata karena ia tahu hanya Sitah yang bisa melakukannya.
From zero to hero. Dari tidak terampil, Sitah bekerja keras hingga menjadi simbol santri terampil. Kami bersebelahan ruang; saya di Bagian Olahraga di ujung gedung, dia di samping saya. Kedua ruang dihubungkan dengan sebuah pintu. Kami leluasa untuk saling mengunjungi. Selama enam tahun di pesantren, beberapa tahun kami sekelas. Puluhan kali saya menyaksikan dan menikmati keterampilannya. Ruang Bagian Olahraga, buku-buku, lemari saya adalah kanvas terbuka bagi Sitah. Sepengetahuan atau tanpa pengetahuan saya, tangan terampil Sitah mengaduk-aduk benda-benda saya untuk sekejap saja berubah menjadi benda-benda indah. Dengan suka cita saya menyambutnya.
Nyatalah bagi Anda, keterampilan dan kreatifitas Sitah. Sekarang tentang keikhlasannya. Bertahun-tahun bersama di pesantren saya cuma mengagumi keterampilan dan kreatifitasnya. Tetapi bertahun-tahun berikutnya, satu lagi kelengkapan Sitah terpampang untuk saya: keikhlasan. Itu pasti keikhlasan yang disetrumkan pesantren kepadanya. Dan hazanah kebajikan bernama keikhlasan yang dimiliki Sitah terpajang untuk saya melalui runititas sangat sederhana, yaitu mengirim kartu lebaran. Kartu lebaran karya tangan terampil dan kreatifnya tak jemu menyapa saya setiap lebaran sejak kami masih bersama hingga bertahun-tahun setelah lulus. Kartu lebaran itu berhenti mengunjungi rumah saya di Wonogiri Utara hanya ketika era digital membuatnya begitu jadul.
Dan inilah ironinya: saya menyadari keikhlasan Sitah yang mengagumkan justru ketika kartu lebaran itu tak lagi ngetren dan Sitah tak lagi mengirimkannya untuk saya. Tersimpan rapi enam belas kartu lebaran Sitah di laci rumah saya, tetapi tak pernah satupun saya balas. Kesadaran saya lahir bertepatan dengan SMS Lebaran dari Sitah sebagai pengganti kartu lebaran. SMS itu menampar saya untuk dua hal: kekejian tidak pernah membalas enam belas kartu lebaran dan keikhlasan Sitah menjalin silaturahmi.
Setelah lama tak bertemu, via facebook saya menyaksikan keterampilan dan kreatifitas yang dibalut keikhlasan mengagumkan itu, kini menopang kesejahteraan hidup Sitah. Pelajaran berharga dari Mister Six! Terimakasih Mister, semoga hidupmu bergelimang kegembiraan. Tetapi sesungguhnya, di samping kekaguman melimpah, saya menyimpan kegeraman yang menyenangkan dari Sitah. Suatu kali, di buku milik saya, Sitah menuliskan kalimat sederhana dalam makna: ’Buku ini hadiah dari Sitah Ahmad Zaenuri atas jasa saya mencucikan celana dalamnya!’
Ya. Geram tetapi menyenangkan karena bagi saya kalimat itu tak lain dari ekspresi keterampilan, kreatifitas dan keikhlasan menjadikan saya sahabat. Sungguh bagi nalar dan naluri sehat, tidak ada alasan untuk marah atas hasil karya keterampilan, kreatifitas dan ketulusan! {oleh Syahid Widi Nugroho pada 27 Februari 2010 jam 15:26}
Selasa, 14 September 2010
pembelajaran sorogan
| sorogan ustadz madan |
- 1. Moving Class.
- 2. Team Teaching
- 3. Accelerated learning.
- 4. Buku kendali Pembelajaran
- 5. Penilaian Portofolio dan Program Aplikasi Madrasah (PAM)
- Peserta didik harus lulus dan tuntas dalam mata pelajaran yang menjadi kurikulum madrasah dan pondok pesantren.
- Peserta didik harus lulus dalam mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional.
- Akhlaq dan tingkah laku selama masa pembelajaran menjadi pertimbangan penentuan kelulusan peserta didik dari madrasah.
- Peserta didik harus lulus dalam ujian akhir tertulis dan Praktik.
- Berorientasi pada kompetensi.
- Mengacu pada patokan/standar. Kriteria-kriteria khusus telah ditetapkan untuk masing-masing mata pelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
- Ketuntasan belajar. Pencapaian hasil belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Valid, adil, terbuka dan berkesinambungan. Penilaian dimaksudkan untuk memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar pesrta didik, adil terhadap semua peserta didik, terbuka untuk semua pihak dan dilaksanakan secara terus-menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik sebagai hasil kegiatan belajarnya.
- 6. Guru Pamong dan Tutor sebaya
- 7. Penjemputan dan Pengantaran
- Menumbuhkan partisipasi Orang Tua/Wali terhadap kepedulian dan perhatian terhadap perkembangan peserta didik.
- Monitoring partisipasi finansial orang tua/wali dalam menyukseskan program pendidikan dan pembelajaran.
- Meningkatkan silaturrohim, silatul afkar dan silatul a’mal.
- Keamanan dan ketertiban siswa-santri dalam perjalanan.
- Meningkatkan kesadaran orang tua/wali akan tanggung jawab pendidikan bagi putra/putrinya.
untuk adik-adikku ...
| karantina UN 2010 |
Calon peserta Ujian Akhir
Yang saya banggakan
Assalamu’alaikum wr wb.,
Alhamdulillah wasy syukru lillah,ash sholatu was salam ‘ala Rosulillah, amma ba’dah.
Pertama kali saya sampaikan selamat kepada kalian semua yang sampai saat ini sudah tercatat dalam daftar Nominasi Calon Peserta Ujian Nasional dan Ujian Madrasah tahun 2010. Semoga tidak ada aral melintang sehingga sampai waktunya kelak semuanya bisa mengikuti ujian dengan selamat dan sukses.
Saya awali tulisan saya ini dengan ucapan selamat karena memang ditengah pelaksanaan kurikulum yang dijalankan di madrasah serta pondok kita ini, boleh tidaknya seseorang siswa-santri mengikuti Ujian akhir masih menjadi perdebatan bagi semua civitas akademika di kampus kita ini, baik itu dari segi pencapaian dan ketuntasan materi/kompetensi ataupun akhlaq dan tingkah laku. Namun sampai saat ini semua yang kita daftarkan untuk mengikuti ujian, nama-namanya masih utuh, tidak berkurang jumlahnya.
Maka, bersyukurlah kalian bahwa pada tahun ini masih belum kita berlakukan diskualifikasi atau pencoretan (eliminasi) calon peserta Ujian Akhir Nasional/Madrasah bagi yang belum tuntas dan menyelesaikan materi pelajarannya atau karena akhlaqnya yang kurang layak untuk dipertimbangkan.
Adik-adikku yang saya banggakan,
Sengaja saya tulis tulisan ini sebagai bentuk “curhat” saya, baik selaku pribadi, guru, maupun yang diberi amanah untuk menjadi Ketua Panitia Madrasah Penyelenggara Ujian.
Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, kalaupun kalian kurang berkenan untuk membacanya, silahkan kertas ini kalian remas-remas, sobek-sobek dan kalian buang atau bakar. Saya ridlo dengan hal itu daripada menyakitkan perasaan kalian. Dan saya juga menyadari jika kalian selesai membaca tulisan saya ini belum tentu bisa merubah cara pandan dan gaya hidup kalian untuk menjadi seperti yang saya angankan.
Tapi kalau memang berkenan, silahkan teruskan untuk membacanya, semoga ada manfaatnya.
Adik-adikku,
Sampai saat ini sudah empat kali UCO atau Try Out UN yang kalian ikuti. Bagaimana hasilnya tentu kalian sendiri sudah tahu walaupun pihak madrasah belum menempelkannya secara resmi, karena memang dari UCO inilah diharapkan setiap individu mampu menyadari kekuatan dan kelemahannya dalam menghadapi Ujian yang sesungguhnya. Untuk itulah selalu saya tekankan agar mengerjakan UCO dengan kemampuan diri yang maksimal, jangan menyontek atau mengandalkan jawaban dari orang lain, karena hal itu hanya akan menipu diri sendiri.
Untuk yang sudah memperoleh hasil yang memuaskan saya ucapkan selamat dengan syarat jangan merasa puas dan takabbur. Teruslah berupaya untuk meningkatkan prestasi yang lebih maksimal lagi, tapi jangan dipaksakan sehingga bisa over dosis. Bagi yang belum beruntung, masih ada waktu untuk memperbaiki diri, jangan patah semangat, dengan terus memohon ridlo dan ma’unah Allah agar memudahkan kita dalam belajar dan berusaha.
Adik-adikku,
Baik bagi kalian yang sudah berhasil muaupun yang belum puas dengan hasil UCO, saya mengajak untuk terus berusaha untuk lebih giat belajar dan berusaha guna menyongsong Ujian Akhir di Madrasah dan Pondok ini, baik itu Ujian Nasional maupun Ujian Madrasah.
Ingatlah bahwa sebagian dari masa depanmu adalah kau ukir dan kau tentukan dari keberhasilanmu dalam ujian ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan berharga ini dengan meremehkannya ataupun tidak memperdulikannya. Persiapkanlah segala sesuatunya dengan maksimal agar kesuksesan dan kebahagiaan dapat kamu raih. Ingat juga bahwa penyesalan selalu datang belakangan.
Mumpung belum terlambat, ayo kita perbaharui niat dan usaha kita untuk kesuksesan dan kebahagiaan itu. Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kita bisa dan mampu untuk berprestasi, bahwa kita tidak menyia-nyiakan kesempatan, waktu dan harta dari orang tua serta wali yang telah membiayai belajar kita di madrasah dan pondok ini. Inilah kesempatan untuk membuktikan kepada guru-guru, asatidz dan terutama Abah Kiayi, bahwa kamu bukan siswa-santri yang tidak berbakti dengan ilmu dan pengetahuan yang telah mereka ajarkan.
Adik-adikku,
Madrasah dan pondok tempat kita bernaung saat ini sudah kadung terkenal, terutama eksistensi Abah dengan inovasi kurikulum pendidikan dan pembelajarannya. Sebelum ada pondok pun madrasah ini juga sudah terkenal dengan alumninya. Kalaulah saat ini kalian sebagai calon alumni Yajri, calon alumni santri Abah, lalu sudah siapkah kalian untuk menjadi alumni dengan keadaan dan kondisi yang ada pada diri kalian saat ini ?
Saya tidak akan mengatakan bahwa pihak pengelola madrasah akan malu kalau kalian tidak lulus, tetapi saya ingin mengembalikannya pada diri kalian. Kalian telah menempuh pendidikan dan pembelajaran di sini + 3-6 tahun, lalu apakah yang akan kalian banggakan setelah keluar dari madrasah/pondok ini ? apa yang kalian peroleh selama di sini ? apa yang bisa kalian manfaatkan setelah tidak lagi belajar di sini ? apa yang akan kalian jadikan bekal untuk meneruskan belajar di perguruan tinggi atau pondok pesantren lainnya atau ketika kembali ke rumah ? apa yang akan kalian amalkan dan kerjakan dalam kehidupan nyata bermasyarakat kelak ? pantaskah untuk menerima ijazah dan surat tanda tammat belajar …? sudah layakkah menyandang gelar “ALUMNI YAJRI” ?
Adik-adikku,
Terpaksa saya menulis tulisan ini karena saya tidak mampu untuk menyampaikannya secara verbal di depan kalian karena memang keterbatasan kompetensi verbal saya serta waktu yang bisa saya manfaatkan.
Sekali lagi, kalau kalian merasa terganggu dan kertas ini tiada berguna untuk kalian, silahkan buang atau bakar saja daripada mengganggu dan menyita waktu kalian.
Terus terang amanah yang saya terima sebagai Kepala Madrasah amatlah berat untuk mengantarkan kalian pada sebuah kesuksesan yang dinamakan LULUS UJIAN. Kelulusan sebenarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab Kepala Madrasah, Pak Kiayi, Guru-guru maupun Asatidz, karena yang akan mengikuti ujian dan mengisi lembar jawab adalah siswa-santri, yaitu kalian sendiri. Untuk itu, sebesar usahamu, sebesar itu pula keuntungan yang nakan kamu peroleh.
Dulu Kiayi saya sering mengatakan, “ Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu ”. Maksudnya, sebesar kesadaran diri kita dalam menghadapi ujian dan kehidupan, sebesar itu pula keuntungan yang akan kita peroleh. Jika kesadaran itu baru sebatas yang penting hidup di pondok ini happy-happy saja ya sebatas itulah yang kamu dapatkan, setelah puas dengan ke-happy-anmu, tidak ada kepuasan lain yang menyertainya, apalagi kepuasan batin yang mendapat rahmat dan ridlo Allah SWT.
Saya sering merasa iri jika melihat dan sedikit membanding-mbanding masa usia kalian dengan masa usia pelajar sekolah/madrasah atau santri pondok lain, yang mana saya melihat kedewasaan kalian belum sebanding dengan mereka. Pada masa seperti usia kalian saat ini, seharusnya sudah tumbuh kedewasaan berpikir dan berbuat yang lebih layak lagi daripada yang kalian kerjakan saat ini. Ini bukan berarti saya menganggap kalian kekanak-kanakan. Lihatlah teman-teman seusia kalian di luar sana, lalu bandingkan dengan diri kalian sendiri, apa kelebihan dan kekurangan kalian ?
Disaat yang Lain berjibaku, berjihad dan berjuang untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan dengan bersungguh sungguh belajar, mengikuti les dan bimbingan belajar, privat dengan biaya mahal, menambah ibadah sunnah dan berdoa untuk mendekatkan diri pada Allah dan mencari ridlo serta ma’unahNya, nah apa yang kalian kerjakan …?
Adik-adikku,
Masih ada waktu untuk berbuat, galilah potensi dalam dirimu dengan prestasimu untuk meraih kesuksesan dan kebahagianmu, jangan kau sia-siakan amanah dari Allah SWT dalam mengelola waktu dan tubuhmu. Gunakan kesempatan yang ada untuk menambah kualitas hidupmu.
Masih banyak yang ingin saya sampaikan sebenarnya, insya Allah dilain kesempatan bisa diteruskan. Anggaplah ini bukan nasehat tapi sekedar curhat saya kepada kalian, semoga bermanfaat, mohon maaf kalau mengganggu dan menyita waktu dan pikiran kalian, semoga Allah meridloi.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Secang, 6 Maret 2010
Akhukum fillah,
Sitah Akhmad Zaenuri
Selasa, 18 Agustus 2009
Belajar, untuk apa ....?
Alkisah, ada salah seorang murid Aristoteles (seorang ahli filsafat dari Yunani) yang sangat malas. Karena sudah mencapai puncaknya, suatu hari Aristoteles memperingatkan murid tersebut untuk merubah perilaku kemalasannya agar lebih giat dalam belajar. Namun murid tersebut menjawab, “Apa yang harus saya lakukan ?, saya tidak memiliki kesabaran terhadap kelelahan serta kejenuhan belajar.”
Mendengar jawaban itu, Aristoteles berkata kepada muridnya, “kalau demikian, tidak ada jalan lain bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi kesengsaraan dan kebodohan.”
Jawaban Aristoteles di atas sepadan dengan apa yang disampaikan oleh salah seorang ulama’ muslim yang menyampaikan bahwa jika kita tidak patuh dengan nasehat ustadz (guru), maka kita harus siap menanggung akibat dari ketidakpatuhan itu.
إنّ المعلّم و الطبيب كلاهما#
لا ينصحان إذا هما لم يكرما
فاصبر لدائك إن جفوت طبيبها#
واقنع لجهلك إن جفوت معلّما
meminum obat, menjaga kesehatan dan menjauhi larangan yang berakibat negatif, tentu sang pasien akan cepat sembuh dari penyakitnya.
Begitu juga dengan murid. Jika sang murid ingin menjadi pandai, pintar dan sukses, sudah barang tentu ia harus patuh dengan nasehat gurunya. Nasehat untuk tidak malas belajar adalah nasehat yang harus diperhatikan dan diamalkan. Bagaimanapun juga, seorang murid tidak boleh malas.
Jika kita runut kosa kata ini, murid berasal dari bahasa Arab yang berupa ism fa’il dari kata kerja أراد – يريد – مريد yang berarti orang yang mau dan berkeinginan. Dalam konteks ini, murid adalah seseorang yang mau belajar dan berkeinginan untuk belajar mengetahui sesuatu. Untuk itulah dalam bahasa Indonesia juga dikenal istilah Pelajar sebagai subyek untuk menyebut siswa yang sedang bersekolah. Disebut pelajar karena memang ia bertugas untuk belajar.
Belajar, untuk apa ?, secara naqly banyak sekali dalil baik secara eksplisit (manthuq) maupun secara implisit (mafhum muwafaqah/mukholafah) yang mendukung seorang muslim untuk belajar dan mencari ilmu. Dalam tulisan ini akan penulis tidak akan menyampaikan dalil-dalil tersebut, yang insya Allah akan penulis bahas di lain kesempatan.
Yang jelas, belajar adalah sebuah proses untuk mengetahui sesuatu menjadi lebih terang dan jelas, sehingga pengetahuan yang dipelajari tersebut dapat diamalkan baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam memecahkan persoalan yang dihadapi dari pengetahuan itu.
dikatakan belajar, jika ia mengalami proses perbaikan yang berkesinambungan (terus-menerus)dalam dirinya, baik cara berpikirnya, mentalitas dan perilakunya.” Ta’rif ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh ahli pendidikan, yaitu bahwa hasil pendidikan dapat dilihat dari cara berpikir seseorang yang mengikuti pendidikan tersebut, sikap, kepribadian dan tingkah lakunya. Kalau hal-hal tersebut mengalami perubahan yang bernilai positif daripada sebelumnya, maka bias dikatakan bahwa orang tersebut berhasil dalam belajar dan pendidikannya.
تعلَم ! فليس المرء يولد عالما #
وليس أخو علم كمن هو جاهل




