Mengenai Saya

Foto saya
secang magelang, jawa tengah, Indonesia

Selasa, 28 Desember 2010

my profile

Sitah Akhmad Zaenuri
Kacamata merupakan salah satu ciri khas dari penampilannya, disamping tasnya yang berisi aneka ATK sehingga bisa diberi laqob sebagai kantor berjalan. Pendidikan S1 ditempuh pada fakultas Syari’ah di IAIN Walisongo Semarang, yang mungkin agak melenceng dari profesinya sekarang. Untuk itulah Ia meneruskan studynya di Program Pascasarja di kampus yang sama dan mengambil konsentrasi Pendidikan Islam, sehingga mendapat gelar MSI (Magister Studi Islam, bukan bukanMasih Single n Ijen lho …) walaupun sempat hampir di DO karena molor dalam penggarapan tesisnya sehingga melampaui batas kewajaran jenjang semester yang diberikan. Tema Tesisnya pun tidak jauh dari kegiatannya hari-hari ini, yaitu tentang "metode sorogan dalam pembelajaran formal", yang menjadi issue sentral dalam proses kegiatan pembelajaran dan pendidikan di pondok dan madrasah ini (tapi bukan berarti Tesis tersebut menjadi tiket dalam mengemban amanat sebagai Kamad). Yang mana metode ini diyakininya bisa menghantarkan peserta didik untuk meraih prestasi dan kesholehan pribadi dan jama’i (sosial) jika betul-betul dilaksanakan dengan maksimal, karena itu merupakan pengejawentahan dari learning society dan teori tholabul ‘ilmi yang menjadi kewajiban setiap individu.
Perjalan khidmahnya pun cukup unik, karena mengalami dua fase pengabdian di lembaga pendidikan ini. Fase pertama adalah pada tahun pelajaran 1996-1997, selepas pengabdiannya di Ponpes Roudloh Hasanah Medan Sumut yang menjadi kewajibannya setelah menyelesaikan pendidikan di ITTC/KMI Darussalam Gontor Ponorogo pada tahun 1995. Pada fase pertama tersebut digunakan juga untuk ngangsu kawruh untuk menelaahkutub turots kepada sesama ustadz yang mengabdi pada saat itu. Kemudian pada Tahun 2003, setelah memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam, Ia kembali lagi diberi kertas undangan rapat koordinasi pengembangan kurikulum oleh KH. Minanurrohman Anshori untuk memulai lagi sebuah pengabdian dan pengamalan ilmu yang telah diperolehnya, dengan tetap fokus pada pembelajaran Bahasa Arab. Setelah itu, tugas tambahan ilegalpun mulai bertengger di pundaknya, mulai pembina OSIS/BESS, Waka bidang kesiswaan, kemudian bidang kurikulum, ketua Panitia Penerimaan Siswa'Santri Baru selama 2 periode berturut-turut, dll. Namun semua itu tetap diterimanya dengan harapan untuk sebuah pengabdian pada ilmu, Kiai dan Orang Tua (birrul walidain). Kesyukuran akan ni’mat Allah akan ilmu dan ma’rifatyang bermanfaat (‘ilmun yuntafa’u bihi) adalah harapan besar darinya agar bisa menjadi tiket dan temannya kelak ketika menghadap sang Kholik, karena 2 tiket lainnya (walad sholih yad’u lahu dan shodaqoh jariyah) masih belum bisa diaplikasikan dengan sempurna.
Amanah berat sebagai Kepala Madrasah Aliyah Yajri yang diembannya mulai awal Februari 2008 bukanlah sebuah jabatan ataupun puncak karier yang diimpikan, tapi mungkin itu adalah sebuah “kecelakaan sejarah” yang harus dilakoninya sebagai bagian dari sejarah hidupnya sesuai mottonya, “innamal mar’u haditsun ba’dahu, fakun haditsan hasanan liman wa’a, wa laisal mar’u yuuladu ‘aliman, fa man dalla ‘ala khoirin fa lahu mitslu ajri faa’ilihi